Sabtu, 02 Juni 2012

laporan pertanggungjawaban kegiatan diklat


BAB I
Pendahuluan
a.        Latar belakang

Sebuah bencana yang mengakibatkan banyaknya korban dapat secara cepat menghabiskan sumberdaya dari komunitas bahkan yang paling penting dapat merugikan baik secara moril maupun materiil. Bencana yang datang secara tiba-tiba telah terbukti  menjadi ujian terbesar atas kesiapan, rencana da sumber daya dari suatu komunitas. Analisis dari tanggapan atas bencana yang selanjutnya di seluruh dunia akhirnya mengidentifikasi tiga area kunci sebagai titik penentu,yakni: kebutuhan untuk rencana yang lebih baik antara seluruh personil yang terlibat dalam setiap tahap; kebutuhan untuk rencana yang lebih baik untuk dipahami secara menyeluruh dan telah dipraktekkan oleh seluruh personil; kebutuhan untuk masing-masing pemegang kepentingan utama untuk mengetahui satu sama lain, kemampuan mereka dan kebutuhan yang diantisipasi sebelum bencana terjadi. Tentara pasifik AS (USARPAC) telah ditugaskan oleh komando pasifik (USPACOM) untuk mengadakan kegiatan peertukaran untuk mempromosikan kemampuan dan untuk saling bertukar pengalaman dengan rekan di luar negeri dengan tujuan untuk kegiatan pelatihan tanggap bencana/ bantuan kemanusiaan regional yang dapat di antisipasi.
Misi dari dukungan pertahanan untuk otoritas sipil / Defence Support to Civil Authorities (DSCA) dan bantuan kemanusiaan tanggap bencana adalahprioritas besar bagi amerika serikat dimana sebagai suatu bangsa adalah untuk mencari cara secara terus menerus untuk meningkatlkan kemampuannya dalam menyediakan bantuan yang di perlukan. Wilayah pasifik telah mengalami hamper semua jenis bencana alam yang mungkin terjadi, seperti tsunami, angin topan, badai, putting beliung, gempa bumi, gunung meletus, kecelakaan pesawat terbang, dan penyakit yang mewabah menjadikan wilyah pasifik sebagai titik paling rentan terjadi bahaya. Untuk mengatasi kejadian tersebut, dephan AS berupaya untuk mengumpulkan agensi guna meningkatkan pemahaman kemampuan dan mencari cara untuk bekerjasama, berbagi sumber daya dan aset pada waktu yang di butuhkan, diharapkan kedepan wilayah pasifik dengan kemampuan SDM yang cukup besar mampu mengatasi kejadian apapun pada saat terjadi bencana yang tidak di inginkan.
b.        Tujuan
DREE “ketahanan pasifik” Indonesia adalah kegiatan tahunanatas ksiapan dan tanggap bencana antara Tentara Nasional Indonesia dengan USARPAC. Acara ini memberikan kesempatan bagi tentara Indonesia, USARPAC dan otoritas sipil untuk mempresentasikan praktik dan ilmu yang di miliki, terhubung dalam dialog kolaboratif, rencana dan prosedur latihan dan peningkatan kesiapan untuk menanggapi bencana. Dari sekian banyak prosesi keiatan tersebut memiliki tujuan utama yakni:
·           Meningkatkan interoperabiltas operasional antara TNI dan USARPAC disamping membangun hubungan pribadi yang baik terutama di bidang penanggulangan bencana.
·            Meningkatkan kemampuan managemen bencana Inonesia
·           Meningkatkan kemampuan TNI dan pemerintah Indonesia unuk mendukung acara regional (bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana) dan mengkoordinasikan operasi militer-sipil (CMO)
·           Meningkatkan kesadaran, kemampuan, da interoperabilitas antara mitra regional untuk tanggapan bersama bantuan kemanusiaan dan tanggap bencana.

c.    Ruang lingkup
Laporan ini berisi kegiatan yang di selengarakan oleh pemerintah AS melalui USARPAC yang bekerjasama dengan TNI dan LPM yang memiliki basic yang sama yakni para pakar tanggap bencana yang dilaksanakan di “Hotel Santika Malang” pada tanggal 21-24 mei 2012.

d.   Pelaksanaan kegiatan
ü  Advon    : 17-20 mei 2012
ü  Dree       : 21-24 mei 2012
ü  Kembali : 25-26 mei 2012


BAB II
Agenda kegiatan

MONDAY, 21 MAY 2012 (Dress: Military = Class B, Civilian = Business Formal)

0800 – 0900
REGISTRATION
0900 - 0930
Opening Ceremony
Comments by:
 [Pangdivif-2 Kostrad], Republic of Indonesia
Kristen F. Bauer, Consul General - Surabaya, United States of America
0930 – 0945
Overview of Pacific Resilience DREE Objectives
COL William Hollingsworth, General Staff, G9 Chief, U.S. Army Pacific
0945 - 1000
GROUP PHOTO
1000 - 1015
BREAK
1015 – 1100
Keynote Speaker
(Dr. Is. Surono, Center for Vulcanology and Geological Hazard Mitigation, Republic of Indonesia)
1100 – 1130
Indonesia: Emergency Response Procedures
(Mr. Medi Herlianto, Director for Disaster Preparedness, BNPB)
1130 - 1200
US Role in Foreign Humanitarian Assistance
(Mr. Harlan Hale, Regional Advisor, USAID Office of Foreign Disaster Assistance)
1200 – 1300
WORKING LUNCH
1300 - 1315
Incident Command System Sessions
Incident Command System - USFS
(Mr. Michael Murphy, Southern Region, U.S. Forest Service)
1315 - 1330
Incident Command System - FEMA
(Mr. Dennis McKeown, Planning Branch Chief, Response Division, Federal Emergency Management Agency)
1330 – 1345
Incident Command System – BNPB or BPBD
(Insert Name Here)
1345 - 1430
Incident Command System Panel Session
(Mr. Dennis McKeown, Mr. Michael Murphy, Insert Name Here)
1430 – 1445
BREAK
1445 – 1545
Ten Minute Mad Sessions
(Mr. Nova Ratnanto, Emergency Response Officer, UN-OCHA)
(Mr. Charles Kumar, Civil-Military Relations Officer, WFP)
(MAJ Killingsworth, USARPAC Contingency Command Post)
(Mr. Drew Benziger, Emergency Manager, U.S. Army Corps of Engineers)
 (CPT Tanner Fleck, Civil-Military Support Element)
(LTC Joe Laurel, Hawaii National Guard)
1545 – 1615
Work Group Session Overview
(Mr. Justin Pummell, Geographer, U.S. Army Corps of Engineers)
1615 - 1630
DAY 1 SUMMARY
1800 – 2000
ICEBREAKER SOCIAL


TUESDAY, 22 MAY 2012 (Dress: Military = Class B, Civilian = Business Casual)

0900 - 0915
         DAY 1 RECAP & ADMINISTRATIVE ITEMS
0915 - 0930
Issue Presentation #1 – Foreign Humanitarian Assistance Friction Points
Engineering
(MAJ Kenneth Frey, USARPAC Contingency Command Post)
0930 - 1030
Work Group Session #1 – Roundtable Discussion
1030 - 1045
BREAK
1045 – 1100
Issue Presentation #2 – Foreign Humanitarian Assistance Friction Points
Movement
(COL James Hess, USARPAC Contingency Command Post)
1100 - 1200
Work Group Session #2 – Roundtable Discussion
1200 – 1300
WORKING LUNCH
1300 - 1325
Civ-Mil Capability Crosswalk
TNI/BNPB/BPBD Capability Crosswalk - [SRC-PB / INDRRA]
(Aster Kasdivif-2 as INDRRA Commander)
1325 - 1350
FEMA/Hawaii National Guard Capability Crosswalk - [National Response Framework]
(Mr. Dennis McKeown [FEMA] and LTC Joe Laurel [Hawaii National Guard])
1350 – 1430
Civ-Mil Capability Crosswalk Brainstorm Work Group Session
1430 - 1445
BREAK
1445 - 1630
Local Perspectives Session
Moderated by [Insert Name Here]
(Community – Malang City)
(Community – Malang University)
(Regional – BPBD)
(Non-Governmental – PMI [Red Cross])
Site Visit
SRC-PB Rapid Response Team Eastern Headquarters Office
(Abdul Rahman Saleh Airbase, Malang, Indonesia)

















WEDNESDAY, 23 MAY 2012 (Dress: Military = Class B, Civilian = Business Casual)

0900 - 0915
         DAY 2 RECAP & ADMINISTRATIVE ITEMS
0915 - 0945
TNI Emergency Response: Recent Lessons Learned
(Kasiopslat Lanud ABD, Tentara Nasional Indonesia)
USARPAC/TNI Pacific Resilience DREE Way Ahead Meeting
0945 – 1015
US Emergency Response: Recent Lessons Learned
(Mr. Drew Benziger, Emergency Manager, U.S. Army Corps of Engineers)
1015 - 1045
BREAK
1045 - 1115
Video: Understanding Volcanic Hazards
(U.S. Geological Survey)
1115 - 1145
Video Discussion Session
1145 - 1200
Practical Exercise Overview
(Mr. Justin Pummell, Geographer, U.S. Army Corps of Engineers)
1200 - 1300
WORKING LUNCH
1300 - 1315
Practical Exercise Delivery
(Insert Name Here, Tentara Nasional Indonesia)
1315 – 1445
Practical Exercise: Phase 1
1445 – 1515
BREAK
1515 - 1615
Practical Exercise: Phase 1 Hot Wash Session
1615 - 1630
DAY 3 SUMMARY

THURSDAY, 24 MAY 2012 (Dress: Military = Class B, Civilian = Business Formal)

0900 - 0915
     DAY 3 RECAP & ADMINISTRATIVE ITEMS
0915 - 1045
Practical Exercise: Phase 2
1045 - 1100
BREAK
1100 – 1200
Practical Exercise: Phase 2 Hot Wash Session
1200 - 1300
WORKING LUNCH
1300 – 1330
PR DREE After Action Preparation
(Work Groups)
1330 - 1430
PR DREE After Action Reporting
(Work Groups)
1430 – 1500
BREAK
1500 – 1515
Conference Summary
(MAJ Matt Marbella, Civil-Military Affairs Officer, U.S. Army Pacific)
1515 - 1615
Closing Ceremony, Certificates, & Gift Exchange
Comments by:
(Pangdam V/BRW), Tentara Nasional Indonesia
MG Darryll D.M. Wong, The Adjutant General, State of Hawaii, Department of Defense
BAB III
HASIL KEGIATAN
HARI KE-1
09.00-09.30          acara pembukaan
Mayjen TNI Ridwan, panglima divisi 2 kostrad
Kristen F. Bauwer,  konsulat AS, Surabaya Indonesia

09.30-09.45          tujuan DREE
Col. William R. Hollingsworth, staff general, G9 chief, U.S Army Pasifik
Latar Belakang PR DREE:
         TNI dan USARPAC memiliki hubungan panjang dalam penanganan dan kesiapsiagaan bencana.
         “Pacific Resilience” Disaster Response Expert Exchange (DREE) tahun 2012 adalah keterlibatan tahunan ke-5 antar kedua organisasi.
         PR DREE memastikan kesiapan untuk melindungi dan melayani masyarakat sipil apabila/pada saat bencana besar terjadi.

Konsep- Keseluruhan
         PR DREE adalah inisiatif kesiapsiagaan dan tanggap bencana tahunan antar militer antara TNI dan USARPAC.
         Berfokus pada kesiapan regional untuk semua situasi berbahaya.
         Memberikan kerangka kerja bagi TNI, USARPAC dan badan-badan sipil untuk memaparkan praktek-praktek terbaik, melakukan dialog kolaboratif, melatih rencana dan prosedur dan meningkatkan kesiapan untuk merespon.
         PR DREE meliputi paparan, sesi pemecahan masalah, latihan praktis dan terkadang latihan lapangan.

Konsep – 2012
         PR DREE akan menekankan pada kesiapsiagaan dan tanggapan regional untuk letusan gunung berapi skala besar. 
         PR DREE akan meliputi sesi-sesi mengenai Sistem Komando Insiden (SKI), interoperabilitas sipil-militer, pembelajaran terbaru, perspektif pemangku kepentingan ,dan operasi-operasi regional. 
         PR DREE akan menggunakan pakar-pakar dari organisasi sepertiTNI, BNPB, USARPAC, USACE, FEMA, USFS, HING, UN-OCHA, dan WFP. 
         PR DREE akan mencatat kegiatan dan perkembangan yang dilakukan melalui topik-topik dan personil-personil ini dan akan menggunakan pelajaran-pelajaran tersebut untuk memperkuat prosedur, rencana
Sasaran- Keseluruhan
         Meningkatkan interoperabilitas operasional antara TNI dan USARPAC, dan juga membangun hubungan pribadi dan pendekatan kolaboratif untuk penanganan bencana.
         Memperkuat kemampuan penanganan bencana Indonesia
         Meningkatkan kemampuan TNI dan Pemerintah Indonesia untuk mendukung even-even regional (HA/DR) dan mengkoordinasikan Operasi Militer Sipil (CMO)
         Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan interoperabilitas antara mitra-mitra untuk tanggap bencana gabunganHA/DR.


10.00-10.15         isirahat (coffee break)

10.15-11.00          keynot address
Dr. Is. Surono, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi, Republic Indonesia

11.00-11.30          Prosedur Tanggap Darurat Indonesia
Bpk. Medi Herlianto, Direktur Kesiapan Bencana, BNPB, Republik Indonesia

MANAJEMEN BENCANA
   Berdasarkan UU No. 24 tahun 2007 tentang Manajemen Bencana
1.    Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 mengenai penanganan manajemen bencana
2.    Peraturan Pemerintah No. 22 tahun 2008  mengenai Pendanaan dan Pengelolaaan Bantuan Bencana
3.    Peraturan Pemerintah No.23 tahun 2008 mengenai peran Badan Internasional dan LSM Internasional dalam manajemen bencana.
4.    Instruksi Presiden No.8 tahun 2008 mengenai Badan Nasional Penanganan Bencana.

            Dengan hasil agar masyarakat dapat mengubah mainset:
         Dari reaktif ke proaktif
         Dari darurat ke pengurangan resiko
         Dari respon pemerintah ke respon tri-sektoral
         Dari nasional ke lokal
         Dari berbasis proyek ke programatik

Bencana di bedakan menjadi 3 bagian yakni:
      Pra-bencana 
      Tanggap bencana
      Paska-pemulihan
Peran BNPB
      Koordinasi = pencegahan mitigasi kesiapsiagaan = pra-bencana 
      Koordinasi komandan pengendali = tanggap bencana = selama/tanggap bencana
      Koordinasi = rehabilitasi & rekonstruksi = pasca bencana - pemulihan
managemen bencana
1.      Pra Bencana:
a.      Masih bukan merupakan prioritas pembangunan, tidak dilihat sebagai investasi. Kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pengurangan resiko bencana masih sangat rendah.
b.      Dilaksanakan oleh banyak pemangku kepentingan oleh banyak pemangku kepentingan (37badan/lembaga). Anggaran tidak memadai dan tersebar di masing-masing badan
2.      Tanggap Darurat:
a.    Wilayah Indonesia luas dan rawan bencana.
b.    Kemampuan daerah untuk menangani bencana sangat terbatas.
c.    Asmsi bahwa bencana merupakan tanggungjawab Pemerintah dan Negara (tersentralisasi)
d.    Komitmen politik dan kepemimpinan daerah dalam tanggap darurat masih sangat rendah.
3.      Pasca Bencana:
a.    Menangani pemulihan dan rekonstruksi yang unik dan spesifik dan anggaran yang terbatas
b.    Setiap tahunnya kerusakan yang disebabkan bencana cukup besar (terlepas dari kejanian-kejadian besar.)
c.    Kemampuan untuk membangun kembali daerah masih sangat rendah.
d.    Sehingga tidak semua kerusakan bisa menjadi bencana besar apabila rehabilitasi/rekonstruksi sesuai dengan yang direncanakan.


11.30-12.00          Prosedur Tanggap Darurat AS
Mr. Harlan Hale, Regional Advisor, USAID office of Foreign Disaster Assistance (OFDA)
OFDA (USAID office of Foreign Disaster) bisa disebut juga “Kantor Bantuan Bencana Luar Negeri” yang dibentuk pada tahun 1964 setelah respon AS untuk gempa bumi di bekas Yugoslavia dan gunung meletus di Costa Rica. USAID Administrator ditunjuk oleh Presiden sebagai Koordinator Khusus untuk Bantuan Bencana Internasional (IDA). USAID, melalui OFDA, memimpin respon Pemerintah untuk bencana alam dan yang disebabkan manusia secara internasional.
Tugas dan Wewenang OFDA : MENYELAMATKAN NYAWA, MENGURANGI PENDERITAAN, MENGURANGI DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI DARI BENCANA.


SEKILAS FAKTA OFDA– TA 2011
Jumlah tanggap bencana OFDA
67
Jumlah negara yang menerima bantuan bencana OFDA
54
Total Anggaran OFDA
$925 juta (4% dari anggaran USAID)
Bencana yang paling sering
Banjir
Sektor yang paling sering didanai
 Air, Sanitasi dan Kebersihan

Kriteria Tanggap Bencana yang dapat di bantu oleh OFDA:
·         Bencana di luar kemampuan negara yang terdampak untuk menangani.
·         Negara yang terdampak meminta atau akan menerima bantuan Pemerintah AS.
·         Tanggap bencana merupakan kepentingan Pemerintah AS.

Peran Respon OFDA :
·         Koordinasi dan memimpin respon kemanusiaan pemerintah AS
·         Mengidentifikasi kebutuhan dan menetapkan prioritas bantuan pemerintah AS
·         Memberikan pendanaan melalui LSM, PBB dan mitra-mitra lainnya untuk bantuan kemanusiaan





Opsi-opsi respon OFDA:
·         Memberikan Bantuan Teknis
·         Memberikan Bantuan Seketika $50,000
·         Mendanai LSM dan OI- termasuk PBB- untuk memberikan bantuan
·         Menerjunkan Penasehat Regional, Tim Penilai, atau Tim Tanggap Bantuan Bencana ( Disaster Assistance Response Team-DART)
·         Mengaktifkan Tim Manajemen Respon (Response Management Team -RMT)
·         Menerjunkan Komoditas OFDA
Kemampuan Khusus OFDA :
·         Rekening Bantuan Bencana Internasional (IDA)
·         Pendanaan “No Year”
·         Kewenangan Terlepas Dari (Notwithstanding)
·         Kewenangan meminjam
·         Kemampuan mendadak
·         Persediaan komoditas di gudang regional
·         Jejaring tanggapan
Mitra Tanggap Bencana : Pemerintah setempat  dan Masyarakat yang terdampak
Mekanisme Pelaporan:  Informasi Produk dan Layanan
·      Analisis dan interpretasi
·      Lembar fakta
·      Kabel
·      Informasi terkini mengenai bantuan kemanusiaan Pemerintah AS
·      Ringkasan program dan sektor
·      Laporan ke Media
·      Pemetaan Resiko dan Bahaya
·      Peta Program



12.00-13.00          MAKAN SIANG

13.00-14.30          Sistem Komando Insiden
Mr. Rusty Witwer, Indonesia Country Officer, U.S Forest Service (USFS)

Insiden adalah : Suatu kejadian, yang disebabkan oleh manusia atau fenomena alam, yang memerlukan tindakan untuk mencegah atau meminimalisir korban jiwa, kerusakan barang milik atau lingkungan.

SKI (Sistem Komando Insiden) adalah :
·      Komando insiden dan konsep manajemen yang terstandarisasi di tempat, dan mencakup semua bahaya
·      Digunakan untuk semua insiden rutin dan juga bencana besar; diaktivasikan pada tanggapan pertama
·      Memungkinkan pengguna untuk mengadopsi struktur organisasinal tanpa dihambat oleh batasan badan/lembaga atau yurisdiksional
Sejarah SKI :
Pada tahoN 1970an SKI dikembangkan setelah kajian pasca kejadian kebakaran hutan besar tahun 1970an– dimana Departemen Kehutanan AS yang memimpin langsung. Pada tahun 1980 – 1990an, SKI Diadaptasi oleh lembaga-lembaga lain di AS untuk digunakan dalam berbagai jenis insiden dan juga oleh negara-negara lain dan pada tahun 2003 Secara nasional dimandatkan untuk manajemen respon kepada semua bencana alam dan yang disebabkan manusia.

Manfaat SKI :
Memenuhi kebutuhan semua jenis dan skala insiden
Memungkinkan personel dari berbagai lembaga untuk bergabung dengan jepat menjadi satu struktur manajemen yang sama
Menyediakan proses akuntabilitas dan perencanaan
Menyediakan dukungan logistik dan administratif bagi staff operasional
Efektif dari segi biaya karena menghindarkan duplikasi upaya
Insiden-Insiden yang Ditangani dengan SKI :
·      Bencana alam- tornado, banjir, gempa bumi, kebakaran hutan
·      KLB/wabah penyakit manusia dan hewan
·      Misi Pencarian dan Penyelematan (SAR)
·      Insiden Bahan Berbahaya dan Beracun
·      Insiden Terorisme
·      Operasi Pemulihan
·      Distribusi bantuan kemanusiaan
·      Acara-acara yang direncanakan seperti parade/pawai, pertandingan olah raga, konferensi, konser, etc.

Pembagian tugas masing-masing bagian dalam struktur organisasi SKI :
Komando: Keseluruhan tanggungjawab atas insiden. Menetapkan sasaran-sasaran.
Keuangan/Admin: Memantau biaya insiden dan memberikan panduan fiskal.  Melakukan pengadaan yang diperlukan
Operational:
Mengembagkan organisasi taktis dan mengarahkan semua sumber daya untuk menjalankan Rencana Aksi Insiden
Perencanaan
Mengembangkan Rencana Aksi Insiden untuk mencapai sasaran, Membuat dan memperbaharui status sumberdaya dan situasi
Logistik
Menyediakan sumber daya dan semua layanan lain yang dibutuhkan untuk mendukung penanganan insiden incident






Beberapa insiden yang pernah di tangani oleh SKI:
1970an-1980an   – Kebakaran Hutan
1980an                – Badai
1989                    – Tumpahan Minyak Tanker Exxon Valdez
1993                    – Gempa Bumi Northridge
1995                    – Pengboman di kota Oklahoma City
1999                    – Kerusuhan WTC - Seattle
2001                    – Serangan terhadap WTC/Pentagon

14.30-14.45          istirahat

14.45-15.45          mad session 10 menit
(Mr. Nova Ratnanto, Emergency Response Officer, UN-OCHA)
(Mr. Charles Kumar, Civil-Military Relations Officer, WFP)
(MAJ Killingsworth, USARPAC Contingency Command Post)
(Mr. Drew Benziger, Emergency Manager, U.S. Army Corps of Engineers)
(CPT Tanner Fleck, Civil-Military Support Element)
(LTC Joe Laurel, Hawaii National Guard)


15.45-16.15          Tinjauan sesi kerja kelompok untuk kegiatan hari selanjutnya
Mr. Justin Pummell, Geographer, U.S Army Corps of Engeneers

16.15-16.30          Ringkasan hari pertama

18.00-20.00          Icebreaker social (ramah tamah)








Hari ke-2
09.15-09.30          pokok persoalan presentasi  #1-
Titik friksi bantuan kemaanusiaan luar negeri (keahlian teknis)
Major Kenneth Frey, USARPAC contingency command post

09.30-10.30          work group sesi pertama – diskusi kelompok dan presentasi

SITUASI: Negara pulau Shark dilanda tsunami besar.
         15% jalan utama rusak dan/atau tertimbun puing
         8 jembatan hancur
         Pelabuhan rusak
         Pembangkit Listrik Tenaga Minyak utama tidak dapat beroperasi; tergenang air laut
         Sistem pompa air dan air limbah rusak akiba tpuing-puing; juga tidak dapat digunakan sampai dengan listrik pulih
         Kerusakan struktural gedung-gedung di kawasan bisnis Turtle
         Rumah sakit utama hancur
         Bandara di kota tertimbun puing, termasuk 3 pesawat besar, bandara militer tidak rusak dan digunakan oleh lembaga-lembaga pemberi bantuan

Tawaran bantuan (opsi-opsi):
      Angkatan Udara Australia dapat menerbangkan pasokan, tetapi memerlukan detail pangkalan militer untuk mengetahui keterbatasan pesawat
      Perancis dapat menyumbangkan 2 Jembatan Bailey surplus dari stok era 1950an yang akan memerlukan perbaikan dalam waktu satu tahun
      AL AS dapat menyediakan peralatan berat konstruksi untuk membersihkan puing-puing; memerlukan 450 pasukan milter untuk 6 minggu
      AL AS ingin memperbaiki pelabuhan untuk memungkinkan lebih banyak lagi bantuan untuk pulau ini; memerlukan 150 personil militer AS
      Cina menyumbangkan 2000 tentara untuk pekerjaan umum
      Jepang dapat mengirimkan tim penilai struktur; bersedia untuk bekerja dengan Kementerian Perumahan untuk memperbaiki UU Konstruksi agar sesuai dengan standar Jepang
      Miyamoto (LSM) ingin membantu pembangunan kembali jembatan; diperkirakan butuh 8 bulan untuk membangun kembali
      Appropriate Infrastructure Development Group (AIDG) ingin menyedian bantuak teknis untuk rekonstruksi pelabuhan
      Domes for the World (Yayasan) dapat memberikan 100 kubah untuk kawasan bisnis dan/atau rumah sakit

Titik pergesekan:
      Tidak melibatkan insinyur negara tuan rumah dalam pengembangan solusi
      Memasang teknologi lalu kemudian membongkarnya pada saat keluar dari negara
      Memberlakukan standar yang berbeda bagi negara tuan rumah
      Melakukan perbaikan melebihi dari standar yang ada sebelumnya
       Teknologi tidak dapat dipertahankan oleh negara tuan rumah (biaya atau teknis)
      Akses dan pertukaran informasi sensitif
       Rencana bandara dan gedung.
      Keterbatasan dalam sumberdaya dukungan yang dapat diterima
       Larangan militer untuk masuk ke negara
      Ketersediaan peralatan konstruksi
      Koordinasi antar militer tidak sinkron dengan keputusan kluster
      Menawarkan kapabilitas yang tidak diperlukan untuk permasalahan tersebut


Pertanyaan diskusi kelompok:
BAGAIMANA CARA MENGEVALUASI SOLUSI PERTEKNIKAN UNTUK MENCAPAI TINDAKAN-TINDAKAN TERBAIK?

 Penyelesaian kelompok 1:
1.      Kirim 1 tim pengkaji cepat yang akan mengevaluasi tempat lokasi bencana
2.      Konfirmasi ke pangkalan TNI pusat tentang jenis pesawat apa yang bisa masuk, berapa kali penerbangan, kondisi setempat, kebutuhan-kebutuhan vital, kondisi terkini, dan dimana titik koordinat yang bisa di tempuh lewat udara.
3.      Untuk sementara manfaatkan SDM setempat semampunya sambil menunggu bantuan dating.
Bantuan yang di ambil:
      Angkatan Udara Australia dapat menerbangkan pasokan, tetapi memerlukan detail pangkalan militer untuk mengetahui keterbatasan pesawat
      Australia air force, Domes for the World (Yayasan) dapat memberikan 100 kubah untuk kawasan bisnis dan/atau rumah sakit
      Miyamoto (LSM) ingin membantu pembangunan kembali jembatan; diperkirakan butuh 8 bulan untuk membangun kembali
      Appropriate Infrastructure Development Group (AIDG) ingin menyedian bantuak teknis untuk rekonstruksi pelabuhan.

10.30-10.45          istirahat coffee break


10.45-11.00          permasalahan presentasi  #2-
 Titik friksi bantuan kemaanusiaan luar negeri pergerakan
CW2 Jules, USARPAC Contingency Command Post

Situasi :
“Badai Siklon Nargis yang sangat parah” Siklon Kategori 4
Terbentuk pada, 01 Mei 2008; Tiba di Burma, 02 Mei (Delta Sungai Irrawaddy Ke Ragoon)
Anging terbesar, 135 mph (bertahan)
Kerusakan, US$10 Milyar
Berkurang, 03 Mei
90.000 Korban Jiwa; 58.000 hilang
Siklon yang paling mematikan di Basin Samudra Hindia Utara
Kerusakan yang dialami: air asin menggenangi sawah dan lading yang mengakibatkan gagal panen, banyak rumah yang rusak, banyak ternak yang mati sehingga masyarakat merugi.


Respon peduli dari JTF:
Pemerintah setempat membatasi akses ke negara tersebut: harus datang dengan udara dan hanya ke Rangoon
Pergerakan yang diberikan untuk bantuan kemuanusiaan asing dari Thailand ke Myanmar :
10 hari pertama: 100%
14 hari berikutnya: 99-51% (air bridge WFP dibuka)
22 hari berikutnya: 50% dan kurang (Dephan AS tidak diperlukan unneeded)
Total dalam Ton = 1.664,298 (berat komoditas minus berat palet)
Penerbangan yang dilakukan (semua C-130):  186

Logistic dan peralatan sementara yang dibutuhkan:
Daftar awal USAID (11 Mei):  “air, wadah air, terpal, kelambu nyamuk, selimut, perahu”
Daftar USAID yang dimodifikasi (18 Mei):  “apapun yang tidak membahayakan siapapun”
Barang-barang yang kita beli:
Mengapa?
Terjangkau, Tersedia, Permintaan

Pertimbangan:
Komoditas yang diperlukan > kiriman
Kemampuan distribusi di dalam negara
Kemampuan teknis: operasional, bertahan
Melengkapi efek ke upaya bantuan pihak ketiga (LSM, Lembaga pemerintahan lainnya)
Apakah anda membutuhkannya sekarang?
Apakah anda akan membutuhkannya nanti?

Pertanyaan  :
APA YANG AKAN ANDA KIRIM?

      Mengingat:
     Ketersediaan stok (US$18juta pengadaan lokal)
     Intelijen dasar mengenai situasi area bencana
     Sampai dengan 7 pesawat C-130 aircraft per hari
      Bantuan darurat apa yang anda kirimkan:
     Pada 10 hari pertama?
     14 hari berikutnya?
     21 hari berikutnya?
      Informasi lain apa yang perlu anda ketahui?

11.00-12.00          presentasi hasil diskusi kerja kelompok

Hasil diskusi kelompok 1 bahwa dalam kejadian tersebut membutuhkan bantuan yang cukup besar dan akses yang tidak mudah, sehingga dapat kami simpulkan sebagai berikut:
Pada 10 hari pertama: kirimkan air, makanan, dan sanitasi, pperlengkapan penolongan pertama, (medical packages), shelter (tenda darurat), security issue, perlengkapan elektronik (genset) untuk power tenaga. 
Pada 14 hari selanjutnya : kirimkan heavy equipment, bahan bakar, SAR equipment, alat transportasi, peningkatan shelter.
Pada 21 hari berikutnya: kirimkan fasilitas yang lebih memadai dan lebih lengkap, disaster victims identification (identifikasi mayat), peralatan untuk pra bencana seperti alat berat dan alat rekonstruksi.
Butuh informasi tentang keadaan terkini tempat bencana.

12.00-13.00          Istirahat makan siang
13.00-14.30          presentasi dari TNI/BNPB/BPBD [SRC-PB/INDRRA]
Presentasi Dari Fema/Hawai National Guard Capability Cross Walk - [National Response Framework]
Presentasi Dari Sipil-Militer Dalam Sesi Group

14.30-14.45          ISTIRAHAT

14.45-16.30          perspektif lokal  dimoderasi oleh major nevin field   USARPAC
Kunjungan situs SRC-PB Rapid response team eastern headquarters office abd.saleh airbase, malang Indonesia

Hari ke-3

09.00-09.15          rekap hari ke-2 dan hal-hal admiistratif
09.15-09.45          Tanggap darurat TNI (pelajaran yang di dapat baru-baru ini)
(Letnan PNB Hermawan, kasiopslat, head of operations and exercise section abd. Rahman saleh air force base)

09.45-10.15          istirahat coffee break
10.45-11.15          video : mengurangi resiko vulkanik (UNESCO)
11.15-11.45          Sesi Diskusi Video
11.45-12.00          Tinjauan Pelatihan Praktis
Mr. justin pummel, geographer, U.S Army Pasifik Corps of Engineers

12.00-13.00          Makan siang

13.00-13.15          penyampaina pelatihan praktis
Letkol penerbang hermawan, tentara nasional Indonesia

13.15-14.45          pelatihan praktis tahap 1
14.45-15.15          istirahat
15.15-16.15          pelatihan praktis tahap 1, hotwash session
16.15-16.30          ringkasan hari ke-3












Hari ke-4
09.00-09.15          rekap hari ke-3 dan hal-hal administrative
09.15-10.45          pelatihan praktis tahap 2
10.45-11.00          istirahat coffee break
11.00-12.00          pelatihan praktis tahap 2, hotwash session
12.00-13.00          makan siang
13.00-13.30          PR DREE Persiapan pasca tindakan (after action preparation)
13.30-14.30          PR DREE laporan pasca tindakan (after acting reporting)
14.30-15.00          istirahat
15.00-15.15          ringkasan konferensi
Major matt Marbella, civil-military affairs officer, U.S army pacific

15.15-16.15          acara penutupan , sertifikat dan pertukaran cindera mata
Sambutan oleh: mayjen TNI Murdjito, Pangdam V/BRW
MG Darryll D.M Wong, The adjutant general, state of hawai, department of defence



















Lampiran-lampiran
Hari ke 1-4  :

                    
                                     
                                                          
               

Penutup

                Demikian laporan pertanggung jawaban kegiatan “pertukaran pakar  tanggap bencana Indonesia” atau disaster response expert exchange (DREE) yang di lakukan selama 4 hari di hotel santika malang, saya selaku peserta mengucapkan termakasih yang sebesar-besarnya kepada Bpk. Rektor ITN Malang juga bpk. WR.III yang telah mendelegasikan peerwakilan dari mahasiswa, dan tidak lupa kepada pihak USARPAC,  dan mayor Fauzi yang telah membimbing kami selama kegiatan DREE ini dan juga kepada ketua umum KSR PMI Unit ITN Malang dan Co.dikten yang telah memilih saya sebagai peserta pelatihan DREE. Semoga dengan kegiatan ini ilmu yang saya dapat sewaktu diklat dapat bermanfaat bagi saya pribadi dan bagi orang lain pada umumnya.
terimakasih












                                                                                                                               

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar